Fakta Utama: Yellow Fever Adalah…

Penyakit Yellow Fever adalah penyakit demam berdarah akut yang disebabkan oleh virus Yellow Fever. Yellow Fever ditularkan melalui gigitan nyamuk. Yellow, atau “Kuning” disini mengacu pada gejala kuning yang dapat terjadi pada beberapa pasien. Berikut beberapa fakta penting mengenai Yellow Fever:

  • Gejala dari Yellow Fever meliputi demam, nyeri kepala, kulit dan mata kekuningan, nyeri otot, mual, muntah, dan kelemahan. 
  • Sebagian kecil pasien yang terinfeksi virus Yellow Fever mengalami gejala yang sangat berat, dan sekitar setengah dari pasien tersebut akan meninggal dalam 7 hingga 10 hari.
  • Virus Yellow Fever adalah virus yang endemis atau menetap di negara tropis Afrika, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan.
  • Wabah epidemi Yellow Fever dapat terjadi ketika orang yang terinfeksi membawa virus ke daerah padat penduduk dengan tingkat populasi nyamuk yang tinggi, dan di mana penduduk setempat memiliki sedikit atau tanpa kekebalan terhadap Yellow Fever. Imunitas yang rendah dapat terjadi karena tidak dilakukannya vaksinasi. Dalam keadaan ini, nyamuk yang terinfeksi dari spesies Aedes aegypti menularkan virus dari satu orang ke orang lainnya. Betul, ini sangat mirip dengan cara penyebaran penyakit Dengue (Demam Berdarah Dengue).
  • Pencegahan Yellow Fever paling baik dilakukan dengan vaksinasi. Vaksin Yellow Fever sangat efektif memberikan perlindungan terhadap Yellow Fever, aman, dan cukup terjangkau. Dosis tunggal Vaksin Yellow Fever cukup untuk memberikan kekebalan berkelanjutan dan perlindungan seumur hidup terhadap penyakit Yellow Fever. Dosis tambahan vaksin umumnya tidak diperlukan. Namun, Sertifikat Vaksinasi Internasional (Buku Kuning) untuk rekam Vaksin Yellow Fever hanya berlaku selama 10 tahun.
  • Vaksin Yellow Fever memberikan kekebalan efektif dalam 10 hari untuk 80-100% orang yang divaksinasi, dan dalam 30 hari untuk lebih dari 99% orang yang divaksinasi.
  • Saat ini tidak ada obat anti-virus khusus untuk demam kuning. Perawatan suportif yang baik di rumah sakit meningkatkan tingkat kelangsungan hidup.
yellow fever adalah

Tanda & Gejala

Setelah virus Yellow Fever masuk kedalam tubuh, virus tersebut akan berkembang biak (inkubasi) selama 3 hingga 6 hari. Banyak orang tidak mengalami gejala apapun, namun apabila terbentuk sekumpulan gejala, umumnya terjadi singkat dan hilang setelah 3 atau 4 hari. Gejala Yellow Fever meliputi demam, nyeri otot dengan nyeri punggung yang berat, nyeri kepala, mual, dan muntah.

Bagaimanapun, sebagian dari pasien yang menderita penyakit Yellow Fever akan memasuki fase kedua dari penyakit tersebut. Fase kedua dari infeksi Yellow Fever adalah fase yang sangat toksik, terjadi sekitar 24 jam setelah pemulihan fase pertama. Demam tinggi kembali dirasakan dengan keterlibatan beberapa organ tubuh. Organ tubuh yang umumnya terserang adalah ginjal dan hati. Pada fase kedua ini, akan terlihat gejala kekuningan pada kulit dan mata. Gejala kuning ini adalah mengapa Yellow Fever disebut Demam Kuning. Beberapa pasien juga mengeluhkan air kencing yang gelap, dan nyeri perut hebat dengan atau tanpa muntah. Seperti pada Demam Berdarah Dengue, pendarahan spontan dapat terjadi dari mulut, hidung, mata, ataupun di dalam perut. Setengah dari pasien yang memasuki fase toksik ini akan meninggal dalam 7 hingga 10 hari.

Diagnosis

Yellow fever adalah penyakit yang sangat sulit untuk didiagnosis, terutama pada tahap awal. Kasus yang lebih berat seringkali dapat menyerupai malaria, leptospirosis, hepatitis A akut, demam berdarah lainnya, infeksi flavivirus lain (seperti Demam Berdarah Dengue), dan keracunan.

Pemeriksaan darah dan air kencing (urin) dengan metode PCR terkadang dapat membantu mendeteksi virus pada penyakit tahap awal. Pada tahap lanjut, pemeriksaan untuk mengidentifikasi antibodi juga diperlukan (ELISA dan PRNT).

Populasi berisiko

vaksin yellow fever jakarta

Penyakit Yellow Fever adalah penyakit yang menetap (endemis) di empat puluh tujuh negara di Afrika (34) serta Amerika Tengah dan Amerika Selatan (13). Sebuah studi pemetaan dengan sumber data di Afrika mengestimasikan beban penyakit Yellow Fever adalah sekitar 84,000 hingga 170,000 pada tahun 2013, dan sekitar 200,000 kasus berat di seluruh dunia, dengan total 29,000 hingga 60,000 kematian.

Terkadang wisatawan yang mengunjungi negara dengan kasus Yellow Fever yang endemis dapat membawa penyakit ke negara yang bebas dari Yellow Fever. Orang tersebut nantinya sangat mungkin menularkan virus Yellow Fever ke orang lain melalui gigitan nyamuk. Untuk mencegah impor penyakit seperti demikian, banyak negara yang mewajibkan tanda bukti vaksin Yellow Fever sebelum visa dapat diterbitkan, terutama apabila wisatawan tersebut berasal dari, atau telah mengunjungi negara yang endemis.

Pada abad ke 17 hingga 19, Yellow Fever tersebar ke Amerika Utara dan Eropa, sehingga menyebabkan wabah luar biasa yang mendisrupsi ekonomi, pengembangan, dan kehancuran populasi.

Pengobatan & Pencegahan

Hingga saat ini, tidak ada obat anti-viral spesifik untuk mengobati Yellow Fever. Prinsip utama terapi adalah secara suportif, yaitu melakukan rehidrasi (menjaga keseimbangan cairan), mengendalikan demam, dan mencegah kerusakan permanen pada ginjal dan hati. Terapi suportif tersebut dapat membantu menyelamatkan nyawa, meskipun angka kematian karena kasus Yellow Fever yang berat masih sangat tinggi.

Tiga prinsip utama Pencegahan Yellow Fever adalah:

Vaksin Yellow Fever

Meningkatkan kekebalan tubuh dengan vaksin Yellow Fever adalah cara yang terbaik dan terpenting untuk mencegah penyakit Yellow Fever. Vaksin Yellow Fever dinilai sangat efektif, aman, dan terjangkau. Satu dosis vaksin dapat memberikan kekebalan seumur hidup terhadap penyakit Yellow Fever. Dosis tambahan vaksin seringkali tidak dibutuhkan.

Meskipun demikian, berdasarkan regulasi, validitas Sertifikat Vaksinasi Internasional (atau yang dikenal sebagai Buku Kuning; ICV) adalah selama 10 tahun. Maka dari itu, orang-orang yang sering bepergian ke negara dengan risiko penularan tinggi harus memperbarui vaksin Yellow Fever mereka setiap 10 tahun untuk pengurusan visa.

Orang-orang yang biasanya diperbolehkan untuk tidak melakukan vaksinasi adalah:

  • bayi dengan usia di bawah 9 bulan;
  • wanita hamil – kecuali saat terjadinya wabah Yellow Fever ketika risiko infeksi sangat tinggi;
  • mereka yang memiliki alergi berat terhadap protein telur; dan
  • mereka yang memiliki penyakit imunodefisiensi berat karena HIV/AIDS atau karena penyebab lainnya, atau mereka yang memiliki gangguan kelenjar timus.

Sesuai dengan Regulasi Kesehatan Internasional (International Health Regulations; IHR), negara mempunyai daulat untuk mewajibkan wisatawan menunjukkan sertifikat vaksinasi Yellow Fever. Apabila terdapat alasan medis untuk tidak melakukan vaksinasi, surat pernyataan dari otoritas yang sesuai harus tersedia. Di Indonesia, surat pernyataan tersebut umumnya diterbitkan oleh Petugas Kesehatan dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), dan/atau Rumah Sakit, Klinik, atau Dokter Praktik Pribadi lainnya yang telah tersertifikasi dan terdaftar di Kantor Kesehatan Pelabuhan. IHR adalah kerangka kerja yang mengikat secara hukum untuk menghentikan penyebaran penyakit menular dan ancaman kesehatan lainnya. Mewajibkan sertifikat vaksinasi dari para pelancong adalah atas kebijaksanaan masing-masing Negara Pihak, dan saat ini tidak diwajibkan oleh semua negara.

Pengendalian Vektor

Risiko penularan Yellow Fever di daerah perkotaan dapat dikurangi dengan menghilangkan potensi tempat pengembangbiakan nyamuk. Ini termasuk menggunakan larvisida ke wadah penyimpanan air dan tempat-tempat lain di mana genangan air terkumpul.

Pengawasan dan pengendalian vektor adalah komponen yang penting, terutama untuk pengendalian penularan dalam situasi wabah epidemi. Yang terpenting untuk Yellow Fever adalah bahwa surveilans vektor yang menargetkan Aedes aegypti dan spesies Aedes lainnya dapat sangat membantu memberi informasi di mana ada risiko wabah pada perkotaan.

Langkah-langkah pencegahan pribadi seperti mengenakan pakaian yang meminimalkan paparan kulit dan menerapkan penolak nyamuk dianjurkan untuk mengurangi risiko gigitan nyamuk. Penggunaan kelambu berinsektisida dibatasi oleh fakta bahwa nyamuk Aedes menggigit pada siang hari.

Kesiapan dan Respons Wabah Epidemi

Deteksi dan respon cepat penyakit Yellow Fever melalui kampanye vaksinasi darurat sangat penting untuk mengendalikan wabah. Namun, pelaporan yang kurang merupakan masalah – jumlah sebenarnya kasus diperkirakan 10 hingga 250 kali lipat dari yang sekarang dilaporkan.